BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Selasa, 21 Desember 2010

renunganku

D.I.L.A.R.A.N.G P.R.O.T.E.S

Entahlah,

Apa dari maksud semua ini

Mengapa aku memiliki indera ini

Indera pembaca hati, paradigma tersembunyi

…

* * *

Dari grafik di atas, dapat diketahui bahwa sediaan Suppositoria menggunakan basis PEG memiliki kemampuan disolusi/ pelepasan obat lebih baik dibandingkan dengan basis Oleum cacao. Hal ini karena kelarutan PEG dalam media disolusi …

* * *

(a) (b)

Gambar 1: Struktur epinefrin (a); Struktur norepinefrin (b)

Epinefrin dan norepinefrin adalah hormon yang disekresikan oleh glandula adrenal dan disintesis dari prekursornya tyrosin dengan bantuan beberapa enzim yaitu tirosin hidroksilase, dopadekarboksilase dan dopamine b hidroksilase. …

* * *

If we talk about the election of governor Yogyakarta, we could said that the speciality of Yogyakarta must be eternal which is see outomatis the governor of Yogyakarta must be from the kindship of Kraton Yogyakarta, that is our king, Sultan Hamengku Bowono X. …

* * *

Masih belum jelas apakah pemerintah Indonesia mencanangkan compulsory education (wajib belajar) atau universal education (pendidikan dinikmati semua anak di semua tempat). Kedua hal ini jelas sangat berbeda, seperti yang telah dijelaskan pada keputusan internasional, Declaration on Education for All di Jomtien, Thailand, tahun 1990, menegaskan bahwa …

* * *

Pada bulan Maret dan April 2009, salah satu dari wabah influenza H1N1 di Meksiko menyebabkan ratusan kasus dan jumlah kematian. Virus influenza A subtype H1 merupakan subtype dari influenza virus J dan yang paling umum yang menyebabkan influenza pada manusia. …

* * *

Aku biarkan kau sendirian, supaya kau tahu bagaimana rasanya sendirian tanpa aku. Seperti aku yang sendirian tanpa kau. Aku senang mendengarmu memanggil orang lain dengan namaku. Supaya kau juga merasakan betapa malunya aku saat memanggil orang lain dengan namamu. …

* * *

Kalian tahu, aku sama sekali tak berniat menuliskan hal ini, karena selain terkesan melebih-lebihkan diriku sendiri, tulisan seperti ini juga biasanya tidak memiliki akhir yang diputuskan dengan jelas. Tentu saja itu bukan salah kalian. Kesalahan 100% muncul dari dalam diriku sendiri.

Suatu hari, saat aku mengayuh sepedaku dalam senja sepulang kuliah. Aku memikirkan sesuatu yang jujur saja cukup mengganjal di pikiranku. Bagaimana tidak? Beberapa hari yang lalu, seorang temanku memberi sebuah instruksi bahwa aku harus menulis tentang cita-citaku atau kurang lebih tentang mimpi yang aku miliki. Dan mulai saat itu, aku merasa hidupku kurang nyaman. Karena mulai saat itu, aku berpikir, untuk apa aku kuliah? Untuk apa aku mendalami dunia tulis menulis? sebenarnya apa cita-citaku? Apa yang aku impikan?

Menurutku kata “cita- cita” atau kata “impian” bukanlah sesuatu yang main-main. Aku bertekad untuk menuliskan itu dengan benar. Dengan akhir yang bisa aku putuskan. Umumnya, aku tidak terlalu memiliki ambisi berlebihan seperti ingin menduduki jabatan tertentu, memiliki gaji dengan jumlah tertentu. Huh, rasanya tidak ada ambisi yang besar untuk itu, rasanya hanya ingin menjadi seseorang yang sederhana, bahagia di dunia dan akhirat dengan terus berguna bagi orang lain. Sayangnya, impian yang seperti itu terlalu klise, terlalu biasa, dimiliki semua orang, dan aku tak bisa menuliskan impian yang seperti itu lagi. Harus yang lebih spesifik!

Setelah aku pikirkan, aku bisa jadi apapun yang aku mau. Kuliah di Jurusan Farmasi Industri sebuah Universitas terkemuka di negeri ini membuka peluang yang cukup besar untuk bekerja di perusahaan asing atau pun lokal, tentunya dengan gaji di atas lima juta per bulan. Aku bisa membayangkan tipe pekerjaanku di perusahaan nantinya. Bekerja dengan shift pagi, sore atau malam, menjadi kepala bagian produksi atau Quality Control. Bisa juga bekerja selama 24 jam sebagai kepala bagian marketing yang memiliki jadwal sesuai klien dan kebutuhan, berdandan rapi dan membawa mobil mewah kemana-mana. Atau jika ingin mengabdi pada negeri ini, aku bisa menjadi pegawai negeri sipil di BPOM dan rumah sakit dengan gaji yang cukup besar dan terjamin.

Aku juga memiliki kemampuan yang cukup hebat di dunia jurnalistik. Redaksi sebuah majalah selama empat tahun menjadikan reportase dan menulis artikel bukan lagi sesuatu yang menakutkan bagiku. Jika dilihat dari kemampuan menulis fiksi, aku memang masih belajar, tapi rasanya kemampuan itu makin hari makin tajam kuasah dalam cerpen-cerpen yang kubuat. Bukankah aku juga bisa menjadi seorang penulis di majalah atau menuliskan sebuah novel? Pekerjaan ini juga cukup menjanjikan jika aku mau fokus terjun ke dunianya. Dalam hal ini bukan lagi masalah uang, tapi tantangan yang sangat menggairahkan menunggu di dalamnya.

Pengusaha. Kata-kata ini cukup menggiurkan. Aku bukanlah orang yang buta tentang dunia usaha dan bisnis. Aku pernah mencoba membuka usaha kreatif yang cukup komersil sewaktu kuliah, awalnya cukup berjalan dengan baik, sebelum akhirnya sempat macet karena dijalankan oleh para mahasiswa yang mau tidak mau terbentur KKN (Kuliah Kerja Nyata) di luar Pulau Jawa. Sebenarnya tidak terlalu sulit, apalagi dengan gelar Apoteker yang akan aku sandang, sangat mungkin utnuk mendirikan sebuah apotek yang memiliki cabang di mana-mana. Usaha itu hanya butuh tekad kuat dan tahan banting. Keuntungan finansial yang diperoleh juga tak kalah banyak, semua diatur sendiri. Tantangannya juga cukup berwarna, walaupun di akhirat kupikir tak terlalu mudah. Aku pasti bisa menjadi seorang pengusaha sukses dengan semangat yang aku miliki, jika aku mau?

Menggiurkan jika membayangkan semua itu, tapi aku bertanya pada aku yang sebenarnya? Maksudku, “Aku yang tanpa hawa nafsu memiliki banyak harta”. Jika bertanya pada “Aku yang tanpa hawa nafsu memiliki banyak harta”, aku berpikir bahwa aku ingin sekali hidup sederhana dan bahagia. Semua orang pasti mau seperti itu, tapi lebih spesifik lagi adalah, aku hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga. Dengan seorang suami dan tiga anak lelaki.

Memiliki sebuah rumah kayu yang indah di daerah pegunungan. Menghirup udara segar setiap hari. Menyapu halaman berumput, mengepel lantai kayu. Menyiapkan sarapan. Melihat senyum semua orang di meja makan, dan menunggu mereka pulang dari tempat mereka beraktifitas. Memiliki kebun yang bisa aku rawat dan aku petik buahnya, memiliki kolam ikan dengan gazebo di depannya, tempat aku dan keluargaku sering makan bersama. Menjadi ibu yang bisa mengamati pertumbuhan anak-anakku, menemani mereka belajar, memberikan contoh sikap yang baik bagi mereka. Memiliki keluarga yang sempurna, berkecukupan dunia dan berlimpah pula di akhirat.

Kalian tahu, membayangkan itu lebih menggiurkan bagiku. Hmmm… tapi sekali lagi aku ingatkan pada kalian. Itu semua hanya impian. Impian yang sebenarnya aku tanam dalam-dalam. Mengapa? Karena aku tahu semua itu hanya memiliki peluang 1% terwujud dalam dunia nyataku. Sedangakan hidup yang aku katakan pada bagian lebih awal tadi, memiliki peluang lebih besar untuk terwujud. Atau mungkin tidak akan terwujud keduanya, jika kau mati. Tapi aku tidak akan membahas kematian dalam tulisan ini.

Aku, terutama oleh mamaku, telah dididik sejak kecil untuk bekerja keras. Apalagi jika teringat dengan nasihat Mama, “Perempuan itu harus punya penghasilan sendiri! Nggak boleh hanya minta suami!”. Aku hanya tidak ingin mengecewakan Mama akan impianku yang terakhir tadi. Untuk itu, aku memendamnya dalam list impian yang paling bawah. Aku harus memiliki penghasilan sendiri yang cukup besar, agar aku bebas memberikan uangku pada orang tua. Membiayai kenaikan haji mereka, membuatkan rumah yang nyaman jauh dari keramain kota untuk masa tua mereka, membelikan kebun yang bisa mereka rawat di waktu pensiun mereka. Apakah semua itu tetap bisa aku lakukan tanpa penghasilan yang aku miliki sendiri?

Inilah aku saat ini, melihat dunia nyata yang tak seindah impianku. Mengejar nilai yang sangat baik di bangku kuliah, mengasah bakat yang aku miliki, memperluas jaringan bisnis. Untuk mewujudkan apa yang aku percaya bisa aku wujudkan. Impianku itu, biarlah tetap ada dalam daftar yang terakhir, tidak boleh protes, kuharap ini yang menjadi keputusanku, jalan hidupku.

Triana Candraningrum

Pusat Kota Yogyakarta, 2010.

Minggu, 05 Desember 2010

cerpen merapi

Kawan Sepermainan

“Ceritakan padaku sebuah cerita!” Pintanya.

Lalu aku terdiam. Mengingatnya kembali.

Kalian boleh panggil aku Ade. Dulu orang sering memanggilku Bendot. Sebenarnya rindu juga dipanggil dengan nama itu. Aku juga senang dipanggil dengan nama itu. Semacam panggilan kesayangan dari orang- orang tersayangku. Tapi sekarang bukan lagi. Panggilan itu memang aku rindukan, tapi membuatku sakit setiap kali mendengarnya. Makanya, kalian panggil saja aku Ade.

Kalian pasti tahu Merapi, bukan? Gunung yang paling aktif di dunia itu sempat menjadi pusat perhatian dunia lima tahun lalu. Tepatnya 26 Oktober, akhir 2010.

Kalian tahu, mengapa aku ada di sini? Tempat ini dulu kampung halamanku. Tujuh kilometer dari puncak gunung megah ini. Masih teringat jelas apa yang terjadi di tempat ini lima tahun lalu.

Aku lahir di sini, bersama gunung itu. Bapakku juga, pamanku, sepupuku, begitu juga kakek dan buyutku. Dan aku akan tetap di sini, bersama gunung ini. Dengan caraku sendiri, membersamainya. Menghirup udara dari pohon-pohon besar di sini. Meminum air dari mata airnya. Bermain diantara pepohonan dan pasir di gunung ini. Tanah kelahiranku.

Aku masih ingat sewaktu berjalan di pagi buta, menyambut mentari yang menyembul dari gunung ini. Menyambut dan tersenyum pada gunung yang gagah di mataku. Pasir hitam yang ada di sisinya memantulkan cahaya surya sampai batu- batu yang ada di kakiku. Menemaniku menyusuri jalan berbatu menuju sekolah dasar yang sederhana di kaki gunung ini.

Jujur saja, aku sangat mengagumi gunung ini. Mengagumi keindahnnya yang menyilaukan. Mengagumi keangkuhannya pada keraton dan ratu pantai selatan. Mengagumi raungannya saat sedang marah atau sakit. Aku mengaguminya sampai detik ini. Mengaguminya bahkan setelah yang ia lakukan padaku. Termasuk malam itu.

Merapi berstatus ‘WASPADA”. Aku sudah dengar kabar itu. Aku juga tidak tinggal diam dan langsung menuju kampung halamanku. Di sana sudah berkumpul seluruh keluarga. Aku senang melihat semua berkumpul di rumahku. Melihat wajah mereka yang bercanda riang dalam suasana yang cukup mencekam. Kami memang hanya berkumpul. Tidak segera pindah ke rumah orang lain yang berada di kaki gunung yang lebih bawah. Bukannya malas mengemasi barang-barang yang sulit dikemas atau karena takut meninggalkan sawah, kebun dan hewan ternak yang melimpah di tanah buyutku ini. Bukan pula karena membangkang pada perintah pemerintah yang bubrah, melainkan semata- mata karena kami sudah terbiasa dengan kelakuan teman kami yang satu ini.

Gunung yang cukup terkenal di dunia itu sudah aku anggap sebagai teman. Aku bahkan menganggapnya sebagai manusia. Dia memiliki tubuh dan jiwa, dia juga hidup dan bernafas. Dia memiliki tubuh yang cukup kekar dan gagah, mana mungkin dia tidak marah jika ada yang mencubit tubuhnya atau bahkan berusaha melukai tubuhnya itu. Dia juga memiliki jiwa yang lembut sekaligus tegas. Ia akan bersikap lembut pada orang yang baik padanya, tapi ia juga akan sangat bersikap tegas bahkan mungkin marah pada orang yang berniat buruk dan berusaha memanfaatkannya untuk hal yang buruk.

Ia juga bisa sakit, ia paling sering bersendawa atau terbatuk-batuk. Kalau sudah batuk-batuk seperti itu, aku langsung pulang ke kampung halamanku. Kadang alasannya bukan karena khawatir atau bagaimana, tapi lebih karena aku ingin melihat seluruh keluarga berkumpul di rumahku. Dulu pun aku sempat berpikir untuk berterimaksih pada teman gagahku itu. Aku terkadang senang saat ia sedikit sakit atau menghembuskan nafas panasnya yang membumbung di udara, karena dengan itu seluruh keluargaku akan berkumpul di rumah. Sekedar berjaga-jaga dan reuni keluarga besar kami yang riuh.

Kalian tahu? Rasanya luar biasa saat melihat seluruh keluarga berkumpul dalam satu rumah? Ada anak kecil yang berlarian, para simbah yang hanya duduk diam di kursi sambil melihat anak cucunya duduk lesehan di bawah. Melihat TV atau sekedar mengobrol membicarakan ternak atau harga pasar saat itu. Lalu aku datang, biasanya di malam hari, membuka pintu rumah, disambut seluruh wajah mereka yang tersenyum padaku, menyambutku. Sungguh, euforia yang luar biasa. Yang mampu membuatku bertahan hingga saat ini, mampu membuatku bangun dari tidurku dan bersemangat setiap hari hingga aku tertidur lagi. Hanya kenangan dari wajah mereka. Hanya itu.

Waktu itu sakitnya cukup parah, sepertinya sakit kronis yang menjangkiti tubuh dan jiwanya. Tubuhnya sakit, juga perasaanya. Dia marah dan mengamuk. Dia tak lagi mengenal lawan atau kawan. Dia bahkan tak mengenaliku lagi! Aku juga tak mengenali dia lagi! Aku pun marah padanya saat itu. Baru dua jam aku kembali ke kosanku di tengah kota Jogja. Dia telah merubah statusnya menjadi “AWAS”. Aku sedikit terkejut. Aku melihatnya dari jarak 30 km dari balkon kos-ku.

Aku menatapnya tajam, dia diam saja, bahkan tak menoleh ke arahku. Dia memalingkan wajahnya dan tak membalas tatapan mataku. Saat itu aku tahu, ada yang menyakiti hatinya, dia kesal juga marah. Ingin balas dendam, tidak lagi seperti temanku. Bukan teman yang menemaniku bermain saat kecil dulu. Dia juga sudah tumbuh dewasa sepertiku. Dia sekarang sudah bisa sedih, bisa marah, dan balas dendam.

Sungguh sakit rasanya jika kalian merasakan juga. Kehilangan sahabat yang kalian kenal sejak kalian lahir. Sahabat yang selalu kalian lihat saat bermain, tidur, mandi, mencuci pakaian, makan, dan saat kalian pergi berpetualang. Lalu tiba-tiba sahabat itu berubah, pergi dan tak ingin menyapamu lagi! Aku kecewa. Aku tahu ia menyimpan sesuatu di hatinya. Aku ingin mendengarnya mengeluh seperti biasa. Tapi ia memilih menyimpannya, membiarkan emosinya memuncak terhadap semua orang. Saat itu, waktu aku melihatnya dengan mata telanjang, aku sudah tahu, aku mulai gemetar. Mulai sadar, kali ini dia tidak main-main.

Aku segera turun dari balkon, mengambil tas di kamar. Pukul 15.48. Aku ingin melihat keluargaku di sana. Aku tahu mereka tidak akan turun hanya dengan batuk itu. Mereka pasti tidak menyadari kemarahan yang dipendam Merapi jika tak melihat wajahnya. Meraka pasti tidak tahu sehabatku itu sedang murka. Mereka pasti masih di rumah. Aku melaju dengan kecepatan 80-100 km per jam. Menuju rumahku, menuju keluargaku.

Sempat aku dihalangi beberapa petugas yang menjaga di pinggir jalan. Aku menolak, ku katakana pada mereka keluargaku masih di atas. Mereka tetap melarangku, menghardikku. Aku ngotot di atas motor, tak juga didengarkan, katanya demi keselamatanku. Masa bodoh! Kataku. Mereka bilang, biar mereka saja yang menjemput mereka. Bagaimana caranya jika tanpa aku, mereka bahkan tak tahu dimana rumahku. Aku beradu mulut, dianggap keras kepala dan bodoh. Tapi aku tahu bukan mereka yang sanggup menghalangiku. Satu- satunya yang bisa menghentikanku hanya sahabat kecilku, Merapi, yang sedang mengamuk.

Aku terus melaju motor menuju rumah, tak menghiraukan mereka mengikutiku dari belakang atau tidak. Hanya ingin melihat mereka, keluargaku selamat. Entah hanya perasaanku saja yang kalut atau bagaimana. Aku merasa suasanya di sekitarku mulai gelap, entah mendung atau abu vulkanik yang membumbung. Saat aku mendengar bunyi gelegar besar yang diperdengarkan oleh benda megah yang sedang kudaki. Aku tidak berhenti, justru semakin kencang memaju motorku. Tiba- tiba aku disergap asap putih layaknya asap pembakaran sampah, melihat beratus meter di depanku asap hitam- kelam dengan ketinggian puluhan meter siap menggulung tubuhku. Aku menghentikan motorku, masih teringat keluarga yang ada di atas sana. Tapi rasa takut merasuk dalam dadaku, berdesir, gemetar, aku mungkin sudah gila berada di sini. Aku seperti melihat tangan-tangan sahabatku itu, tangan-tangan malaikat Izrail yang ingin mencabut nyawaku. Akhirnya aku bisa merasakan sangat dekat dengannya setelah sekian lama berteman. Merasakan sedikit hawa hangat yang mulai menyentuh kulit dan mataku, perih sekali. Tak sempat lagi berpikir, turun dari motor dan masuk ke lubang kecil pinggir jalan. Sangat cepat, dan semua menjadi gelap.

Malam itu ia meluapkan amarahnya, menyapu rata kampungku, keluargaku.

Saat terbangun, aku telah berada di sebuah ruangan yang sangat ramai. Samar-samar kulihat banyak orang berlalu lalang di sekitarku. Semua yang kulihat merintih kesakitan. Tubuhku tak terasa ada di tempatnya, sulit menggambarkan rasa sakit waktu itu. Aku mengingat kembali yang terjadi padaku. Aku ingat saat melompat ke dalam selokan kecil, merangkak buta ke dalam hingga tak melihat cahaya dan terpejam.

Aku masih ingat tentang keluargaku. Aku masih merindukan mereka, wajah meraka. Bagaimana nasibnya?

Aku masih di tempat yang sama. Sampai dikunjungi keluarga jauh di Purwakarta. Belum tahu kabar mereka. Waktu aku dengar sahabatku itu mengamuk lagi mengibas-ngibaskan nafas panasnya ke segala arah. Meminta 120 nyawa manusia. Belum juga tahu nasib mereka.

Luka bakar 30% di sekujur tubuhku. Hingga aku tahu, kehilangan 12 anggota keluarga. Termasuk orangtua, saudara, sepupu, keponakan, simbah, dan teman kampungku. Yang wajahnya pun tak bisa dikenali lagi. Hanya suasana terakhir saat mereka menyambutku pulang. Itu saja. Kini aku hidup, dengan kenangan wajah mereka, euforia saat membuka pintu, semangat saat melaju motorku, juga kenangan pelukan hangat dari keponakana kecilku.

Kini aku berdiri di mantan kampung halamanku. Tapi bukan lagi untuk menemui keluarga tersayangku. Kini hanya dengan seorang temanku dalam rangka pengamatan. Siapa lagi jika bukan kawan lamaku. Bukan lagi sebagai mahasiswa gila yang menerjang- menantang nafas panas kawanku itu, melainkan meneliti lebih dalam sifat asli teman yang kutantang dulu.

Aku melihat wajahnya, dari sela-sela pohon tempatku berdiri. Tidak lagi seperti lima tahun lalu. Ia tersenyum padaku, atas tingkah jahilnya lima tahun lalu. Ia tak perlu minta maaf padaku, bahkan aku tak pernah menggangapnya bersalah. Aku pun membalas senyumannya.

“Ayolah, ceritakan padaku sebuah cerita!” Pintanya lagi.

Aku tersenyum melihat wajah teman yang sedari tadi berdiri di sampingku. Menungguku bercerita tentang kejadian lima tahun lalu. Aku menggeleng. Kembali menyusuri punggungmu yang tegap. Tak ingin menceritakan hal buruk tentangmu. Biar hanya kalian yang tahu.

Jogja,

Nov 2010

cerpen


“Aish…”

Waktu itu kau katakan bahwa kau telah putus dengannya. Si lelaki keturunan Brunei Darusslam itu. Tapi saat itu juga, setelah makan malam, kau tancapkan gas hingga 100 km/jam hanya karena si lelaki Brunei itu mengobrol dengan sahabat kecilmu yang juga duduk di sebelahmu. Lucu!

Lalu malam itu juga kau mendiamkan sahabatmu itu hingga berhari-hari sampai berbulan-bulan. Anehnya lagi, kau dengan sikapmu yang palsu, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, bahkan tak ingin menjelaskan apapun pada sahabatmu itu, hingga kau menemukan mainan lelaki yang baru lagi.

Kali ini, sudah diduga, kau tak akan pernah mengenalkan lelaki Indonesia tulen yang kaya raya itu dengan sahabatmu lagi. Bukankah kau cukup pintar untuk belajar dari pengalaman?

Sampai akhirnya kau berlebihan. Demi si lelaki tulen yang gedongan itu, kau melepaskan semuanya. Melepaskan teman- temanmu, sahabatmu, orang tua, agama, norma, bahkan pakaianmu. Kau bukan lagi seorang pengahafal surah Yasiin seperti yang dikenal oleh si Brunei. Kau bukan lagi sahabat dari sahabat polos yang tak tahu jalan pikiran sempitmu. Kau bukan lagi seseorang yang dicintai oleh semua orang. Yang mencintaimu hanya dia, lelaki bermulut penuh cinta bagaikan busa di lautan.

Lalu kau sekarang di sini? Menyedihkan.

Duduk di sebuah ruang sempit berukuran 2 x 4 meter dengan lampu temaram tanpa tegangan listrik stabil. Ditemani sebuah kursi, meja, lemari kayu, dan dipan besi dengan kasur tipis serta bantal lapuk di atasnya. Berantakan. Berpakaian selembar kain yang bermodel layaknya baju mainan Barbie anak jalanan yang tak menutupi aurat, seperti yang sering kau kenakan dulu.

Sesekali mengerdipkan kelopak matamu perlahan, tersenyum dan datar kembali. Mulai hari itu, saat kau memutuskan menaggalkan semuanya. Kau merasa mendapat hidup yang baru. Kau menikmati segala kenikmatan dunia yang kau inginkan. Tak ada lagi sahabat kecil yang sekamar denganmu dan yang selalu mengingatkanmu. Membuangnya layaknya sampah telah jadi keputusanmu sejak hari itu.

Sampai dua tahun setelah kau menempuh hidup barumu yang tak resmi. Orang tuamu bahkan kekeringan air mata karenamu. Kau bertengkar hebat dengannya. Di pinggir jalan, memilih sebuah jembatan yang cukup sepi. Berkata perlahan padanya bahwa kau ingin dinikahi secepatnya. Mana mungkin, lelaki gedong yang berengsek seperti dia bersedia? Menikah dengan gadis tak perawan dan tak beragama lagi sepertimu? Mustahil.

Beradu mulut, yang dibarengi air yang memaksa untuk keluar dari sela bola matamu. Dia ngotot, begitu juga kau. Hingga berkahir dengan sebuah keputusan yang membuatmu tertunduk. Mengiyakan permintaan bejatnya sekali lagi, meniadakan penyebab dari pernikahan kalian pada dokter kandungan ilegal.

Mulai saat itu, sakit yang teramat sangat kau rasakan dalam hidupmu, mengiris-ngiris rahim dan kemaluanmu tanpa jeda. Meminta pertanggungjawabanmu sebagai wanita yang masih punya air mata untuk ditumpahkan. Tak ada lagi kehidupan untukmu. Tak ada orang tua yang ada di sampingmu. Kau bahkan tak tahu bagaimana reaksi mereka jika kau menceritakan yang sebenarnya. Tak ada lagi lelaki gedong yang kau banggakan. Hanya ingin menemui sahabatmu itu. Hanya terpikir dengan sahabat yang kau buang dua tahun lalu. Hanya ingin melihatnya, memeluknya, menangis di depannya, menatap matanya yang teduh, sekamar lagi denganya dan bercerita menjelang menutup mata di sampingnya.

Sahabatmu tak terdeteksi batang hidungnya. Sahabat yang kau pilih sejak sekolah menengah itu dengan mudah kau tinggalakan demi lelaki yang tak jelas lari kemana. Demi hidup baru yang kau anggap lebih menyenangkan. Lalu kini kau mulai mencarinya. Sahabat yang ada setiapa kali kau sedih atau suka. Kau mengingat memori lama tempat tinggalynya, tapi entah sudah pindah kemana, tak ada nomor hape, tak ada account di jejaring sosial. Kau ketakutan, sendirian. Di dunia yang tak sama sekali kau kenal.

Hingga kau lelah. Ingin sekali menumpahkan segala sampah yang ada pada dirimu. Ingin sekali bertemu dengannya hingga setiap malam bermimipi tentangnya. Mimpi tentang masa lalu kau dan dia saat tertawa berjalan di koridor sekolah saat kau lulus. Tertawa saat kau dan dia tidur dia atas satu dipan melihatnya menggambar burung jelek di atas udara. Tertawa saat kau dan dia makan bersama hanya dengan sambal di tenpat perantauan. Kau merindukan itu. Kau ingin bertemu denganya, hanya dia, sahabatmu.

Kau ingat saat kau mengirimkan sms yang terakhir untuknya. Bahwa kau ingin dia tak lagi mencampuri hidupmu. Bahwa kau tak lagi ingin satu kos dengannya. Dia mencarimu, di kampus, di kos, di setiap rumah teman dekatmu. Kau melihatnya, mencarimu dengan kalang kabut di kampus, bersembunyi di kejauhan, kau menghindar. Kau melihatnya saat ia bertanya pada temanmu di depan pintu, bersembunyi di balik jendela, kau menghindar. Kau menerima, pesan e-mail yang berulang kali dia kirimkan pada account-mu, kau hapus dengan sadisnya.

Kini semua orang berubah menjadi dia di matamu, “Aish, Aish!!”, kau panggil nama itu pada semua orang yang kau temui. Wajahnya ada dimana-dimana setiap kali kau membuka mata. Belum lagi suara tanggis bayi yang sering kau dengar di kamarmu sejak kau menghancurkannya. Atau darah yang kau lihat mengalir dari selangkanganmu. Membuatmu lemas.

Hingga kau ada di sini. Kau lelah mengatakan bahwa kau tak gila. Kau hanya ingin bertemu Aish. Hanya di yang bisa menghentikan suara bayi yang menangis di kamarmu. Hanya dia yang bisa membantumu membersihkan darah yang berceceran di tubuhmu, hanya dia yang bisa memelukmu dan menghapus air matanmu. Kau hanya ingin bertemu Aish dan membiarkannya melihat keadaanmu. Membiarkannya kembali padamu lagi, seperti dulu. Kau mengatakan itu berulang kali pada mereka yang menyeretmu, mengikat tangan dan kakimu, menyakiti tubuhmu dengan jarum suntik, kau telah mengatakannnya berulang kali, mereka tetap tak mau dengar.

***

Aku masih ada di sekitarmu, aku melihatnmu menangis di jembatan malam itu. Aku tahu sesuatu yang selama ini aku takutkan benar terjadi padamu. Aku melihatmu dari balik kaca mobilku yang berjarak 10 meter dari kau dan Edi. Aku menangis, bersamamu. Merasakan kesendirianmu saat itu. Aku ingin menemuimu, saat itu juga. Ingin memelukmu, menghapus air matamu dan menghajar Edi di depan matamu. Mengatakan padamu untuk meninggalkan lelaki sialan itu.

Tapi saat itu aku teringat apa yang kau katakana padaku. Aku ingat saat melihatmu melintas di balik tembok dan menjauhiku. Teringat saat melihat bayanganmu yang ada di balik jendela. Teringat betapa kau telah berbuat kejam padaku. Membuatku hilang tanpa arah, kalang kabut, bingung dan sendirian. Sedangkan kau bersenang-senang dengan lelaki itu. Lelaki yang juga pernah meniduriku. Kenapa kau tak percaya padaku, aku benci padamu saat itu. Saat kau menuduhku berbohong dan mengira aku ingin merebutnya dariku. Aku benci padamu!

Aku ingin kau menderita, seperti aku. Aku ingin kau merasakan kesendirian yang mengeitariku setiap kau tidak ada. Aku ingin kau menderita, bahkan lebih menderita dibanding aku.

Aku senang kau hamil, karena aku tahu lelaki itu pasti akan meninggalkanmu. Menyisakan sakit yang luar biasa pada tubuhmu. Lalu saat itu mulai aku yang kan melukai jiwamu. Aku melihatmu saat kau mencariku di rumah lamaku. Aku biarkan kau sendirian, supaya kau tahu bagaimana rasanya sendirian tanpa aku. Seperti aku yang sendirian tanpa kau. Aku senang mendengarmu memanggil orang lain dengan namaku. Supaya kau juga merasakan betapa malunya aku saat memanggil orang lain dengan namamu.

Aku ingin kau merasakan deritaku. Saat mobil yang kukendarai meremukkan tulang-tulangku. Itu Karena aku memikirkanmu, memikirkan bagaimana nasibmu tanpa aku. Memikirkan bagaiman nasibku tanpa kau.

Aku ingin melihatmu menderita terbaring sendirian tak berdaya. Dengan tetap memikirkanku. Seperti aku yang memikirkanmu hingga akhir nafasku. Aku ingin kau tak akan bisa melihatku hingga akhir nafasmu pula. Seperti aku yang ingin sekali melihatmu hingga ajal menjemputku.

Aku senang, karena kau telah mengalami seluruih penderitaan yang aku alami. Sampai kapanpun kita kan mengalami hal yang sama dalm hidup ini. termasuk juga saat ini. Aku ingin kau mati tidak tenang. Seperti aku yang kini menemanimu di kamar ini. Duduk di sampingmu dalam satu dipan seperti dulu. Walau kau tak merasakan. Menatap wajahmu yang pilu, walau kau tak bisa melihatku. Aku ingin kau mati, mati tidak tenang karena tak bisa melihatku lagi. Karena hanya itu yang bisa memebuat kita kembali bersama, seperti dulu. Sahabat sampai mati.

Jogja, Des 2010

Senin, 11 Januari 2010

Setetes Air yang Mengalir Perlahan...

Ana izzihni

Baru beberapa minggu yang lalu, seorang temanku yang sekarang di luar kota Jogja, menghubungiku dan menanyakan kabar teman-teman yang lain di Jogja. Sudah lama aku tidak berkomunikasi dengannya sejak penerimaan mahasiswa baru di kampus kami masing-masing. Seperti biasa, aku menanyakan kabarnya juga di sana, apakah ia nyaman dan dapat menyesuaikan diri di tempat barunya di kota itu. Namun jawaban yang aku dapat cukup mengecewakan karena sampai saat ini, setelah dua bulan ia tinggal di kota itu dan merasakan suasana baru, ia mengatakan bahwa ia tidak betah dengan sussana di sana termasuk dengan teman-teman barunya. Menurutnya, kehidupan di sana dan teman-temannya itu tidak sejalan dengan prinsipnya. Ia juga mengeluh bahwa ia tidak menemukan satu teman pun yang dapat sejalan dengan perinsipnya itu, ia bahkan cenderung kaget dengan kehidupan di sana yang sangat berbeda dengan Jogja.

Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya, prinsip seperti apa yang ia maksud hingga tidak ada satu orang pun temannya sejalan dengan itu? Padahal menurutku ia bukanlah orang yang terlalu kaku hingga tak dapat menyesuaikan diri. Ia adalah orang yang baik, bahkan sangat baik dan sering memberi nasihat padaku jika aku mengalami masalah, baru kali ini aku mendengar ia mengeluh seperti itu. Ia adalah orang yang taat pada Allah SWT, jauh lebih taat dibandingkan aku, rasanya aku tidak pantas memberi nasihat pada orang sepertinya. Ternyata, orang seperti ia juga bisa mengalami hal sulit dalam menyesuaikan diri, padahal ia adalah orang yang fleksible dan tidak suka mempermasalahkan sesuatu.

Apa boleh buat, aku tidak mungkin bersikap masa bodoh setelah ia menceritakan apa yang ia rasakan itu, aku merasa harus memberi sedikit tanggapan padanya walaupin aku tahu, aku belum bisa memberinya nasihat atau membantunya menyelesaikan masalah itu. Dengan sedikit memilih kata-kata yang tepat, aku membalas SMS panjang yang berisi keluh kesahnya dengan kata-kata seperti ini, “Rul, kamu yang sabar, ya! Aku tahu kamu bukan orang yang lemah, apalagi untuk hal yang sedang kamu alami sekarang. Aku yakin kamu bisa! Karena kamu sudah pernah berhasil melewati hal yang jauh lebih sulit dari hal itu, terlebih lagi kamu melewatinya dengan sangat baik. Kamu harus yakin, kamu pasti bisa melewati semua ujian, godaan itu! Islam itu mudah, Islam itu indah, Islam itu anugerah. Semua itu yang harus kamu tunjukkan pada mereka, tapi bukan dengan kata-kata! Karena perilakumu jauh lebih baik dari kata-kata. Yakinlah, suatu saat nanti kamu akan membuat arus yang berbeda dengan mereka dan akan banyak orang yang mengikuti arusmu itu. Ok, Rul?! Kamu bisa, kok! ^-^ ”. SMS balasan itu memang tidak dalam satu SMS saja dan kata-kata itu juga tidak tertulis lengkap seperti di atas, tapi semoga itu bisa sedikit menguatkan temanku untuk tegar di sana.

Sejak saat itu aku merasa, justru bukan aku yang telah menguatkan ia, tapi justru ia yang telah menguatkan aku dan memantapkan prinsipku. “Islam itu mudah, Islam itu indah, Islam itu anugerah”. Kejadian itu membuatku sadar dan tahu apa maksud kata-kata di atas. Seakan ada setetes air lagi yang mengalir pelan dan mendinginkan hati ini, membuatku semakin berucap syukur pada Allah SWT atas Islam yang Ia berikan padaku.

Aku tahu, aku sadar bahwa aku orang yang masih jauh dari yang diharapkan Allah SWT, aku masih jauh dari golongan orang-orang yang disayangi Allah SWT, tapi satu hal yang aku percaya, apapun yang aku lakukan, apapun yang ada dalam hati ini, Allah SWT pasti melihatku. Ia pasti tahu betapa banyak kekurangan yang ada dalam diriku. Ia begitu Indah dan sangat menyukai keindahan. Aku yakin, Ia juga akan membimbingku untuk menjadi indah seperti yang diharapkan-Nya.

Untuk selanjutnya, aku ingin, bukan hanya aku yang merasakan indahnya Islam itu. Aku ingin orang lain, sebanyak mungkin, turut merasakan tetesan air itu di hati mereka, walaupun telah lama Islam melekat pada diri mereka, belum tentu mereka pernah merasakan sejuknya Islam yang membuat tenang dan damai. Seperti aku, yang juga baru saja merasakan kesejukan itu, walapun telah lama menyandang beragama Islam.

Mungkin alasan itulah yang dengan kuat mendorongku hingga menulis tulisan ini, sebagai salah satu syarat mendaftar forum kepenulisan yang berjalur dakwah Islam. Semoga ini adalah jalan menuju arah yang lebih baik. Aku bukanlah orang baik, untuk itu aku ingin menjadi baik. Aku bukan orang yang taat pada-Nya, untuk itu aku ingin lebih taat lagi. Seseorang harus berubah, tapi pilihan perubahan itu hanya ada di tangan orang itu sendiri.

Triana Candraningrum


Rabu, 30 Desember 2009

sedikit tentang cinta

I’M FALLING IN LOVE

Ana Izzihni

Ini cerita gue. Pengakuan gue yang paling jujur. Mungkin kalo ini dibaca sama orang-orang yang pernah kenal gue, mereka bakal kaget setengah mati. Hahaha….

Sebelumnya gue nggak nyangka bakal ada di sini dengan perasaan seperti sekarang ini. Rasanya banyak banget yang berubah dari gue, penampilan gue, cara berpikir gue, dan yang paling penting, ada rasa yang aneh di hati gue. Gue jatuh cinta!! Mau tahu gimana ceritanya?

Di kampus gue ini ada semacam forum diskusi gitu dech. Tiap kelompok, anggotanya kurang lebih sepuluh orang ditambah satu pembimbing dari kakak angkatan, topik yang dibahas spesifik seputar agama, Islam pastinya, asyik lho! Kadang kita juga ngebahas tentang banyak hal umum dan semua itu buat gue ngerasa akrab banget sama mereka, gue nggak kesepian di sini. Bedanya lagi, temen-temen yang gue dapet di sini bener-bener temen yang asli. Gue nggak tau sich, gimana bedanya, tapi gue yakin temen-temen gue yang di sini beda banget dibandingin temen-temen gue yang di Jakarta dulu. Beneran!

Belum lagi kalo gue cerita tentang mbak pembimbing gue, (aneh rasanya nyebut kata ‘mbak’, gue baru belajar nyebut kata itu di sini, sebelumnya, mana pernah!). Namanya Mbak Achi. Jujur aja ya, sejak pertama gue lihat dia, gue kagum banget ama dia. Bayangin aja, Mbak Achi itu cantik luar dalam. Dari fisiknya nih ya, kulitnya putih mulus tanpa noda, tanpa make up. Bola matanya coklat, tanpa softlens. Bibirnya pink, tanpa lipstick. Pipinya merah tanpa blush on. Cantik banget, kan? Gue lebih kagum lagi karena semua kecantikan fisik yang dia punya itu dijaga, ditutup rapi ama jilbab! Wah, kok bisa, ya? Apalagi perilakunya dan cara dia bicara, lembut tapi tetep tegas, pokoknya keren, deh! Awalnya gue aneh banget, kok dia bisa, ya, nutupin semua kelebihan dia gitu? Memangnya kenapa? Bukannya malah nggak bebas, ya?

Justru karena pertanyaan-pertanyaan itu, gue jadi rajin banget ikut diskusi, soalnya gue pengen banget tahu alasan Mbak Achi kayak gitu, sekaligus pengen tahu aja lebih dalem tentang agama yang ada di KTP gue, Islam. Hehehe...

Gue emang masih Islam KTP, tapi sejak gue ikut diskusi itu, gue udah mulai sholat dengan rutin lho, katanya sholat emang tanda orang Islan, kan? Kalao’ ngaji, gue emang belum lancar, ini dalam tahap belajar. Maklumlah, selama ini gue cuma belajar Islam secara teori doang di sekolah, nggak terlalu nusuk ke hati. Makanya sholat aja masih bolong-bolong, aurat juga masih dibuka.

Tapi jangan salah, sekarang ini gue udah mulai berubah, walaupun masih dalam tahap awal banget. Tapi sekarang gue bener-bener ngarasain perbedaan penampilan gue dan rasa di hati gue ini. Sekarang gue mulai belajar nutup aurat, semua serba pake yang panjang, walaupun masih tetep pake celana jins sich, tapi yang paling ngerasa beda itu di hati gue ini, gue mulai sayang dan ngerasa deket banget ama suatu zat yang sebenarnya udah gue tahu dari dulu, tapi gue baru ngeasa bedanya sekarang ini, zat itu adalah Allah (wah, gue merinding nyebut kata itu, rasanya gue takut, sekaligus kagum, sekaligus cinta sama Dia).

Ternyata itu juga yang buat mbak Achi rela nutupin semua kelebihan fisiknya itu, dia juga udah jatuh cinta sama Allah. Sampe-sampe, dia pernah bilang gini, “Kalau setelah mati kita pasti ketemu Allah, aku mau mati sekarang.” Wow, jangankan cuma buat nutupin aurat, buat mati pun dia rela buat Allah. Jujur! Gue semakin yakin, gue pengen deket dan sayang sama Allah, seperti Allah yang selama ini udah sayang banget sama gue, tanpa gue sadarin. Gue akan berusaha supaya Allah nggak kecewa ama tingkah gue lagi, yang seperti dulu. Gue akan berusaha!!

Sekarang, gue udah sedikit berubah jadi lebih baek. Tapi sebenarnya ada satu hal sich yang bener-bener pengen gue ubah, walaupun agak sulit. Gue bingung harus mulai darimana caranya cerita. Intinya, gue pengen putus sama Pape.

Udah dua tahun gue deket sama Pape, sejak gue kelas dua SMA. Nggak ada yang salah dari Pape. Dia baik, dia ngertiin gue banget, dulu dia ketua osis, ikut paskib juga, dari tampang dia juga termasuk salah satu orang yang paling diincer para cewek. Yang paling penting, yang menarik dari Pape, dia itu udah lebih dulu shalat lima waktu dibandingin gue, dari SD dia udah shalat lima waktu, dia juga sering ngingetin gue shalat. Sebenernya gue heran kenapa dia bisa suka sama gue, apa kelebihan gue? Gue nggak cantik, banyak cewek yang lebih cantik yang ngejer-ngejer dia. Dari perilaku, gue juga nggak pernah ngejer-ngejer dia. Gue aja kaget waktu dia deketin gue.

Memang nggak ada yang salah dari Pape, tapi menurut gue, kalo gue mau bener-bener jadi muslimah (ciyee…), gue nggak boleh kayak gini! Tapi apa gue bakalan jadi orang yang egois, kalo gue tiba-tiba mutusin dia tanpa alasan yang jelas. Ato gue bilang aja sama dia kalo gue pingin mulai berubah jadi muslimah yang bener. Dia bakal ngetawain gue nggak, ya? Gimana caranya? Gue jadi inget waktu gue bilang sama dia kalo gue bakal kuliah di Jogja. Dia nggak sedih, soalnya dia percaya banget sama gue, dia juga yakin kalo itu hal bagus buat gue, dia yakin kalo ini semua juga buat masa depan gue. Pape baik, tapi gue harus putus sama dia. Harus!!!

Akhirnya, waktu dia telepon kemarin, gue jujur sama dia. Gue ceritain semua yang gue rasain di sini dan semua perubahan gue. Tahu nggak, gimana tanggapan dia? Dia seneng banget gue berubah, pake jilbab lagi. Trus gue bilang aja sama dia, gue nggak mau cuma berubah sampe sini doang, gue serius pingin berubah total, pingin punya kehidupan baru, yang jauh lebih baek dari yang dulu atau sekarang. Gue pengen bener-bener deket sama Allah, sesuatu yang baru aja gue sadari, kalau Dia emang sangat sangat sangat mengagumkan!! Gue udah jatuh cinta ama Dia, gue pingin deket terus sama Dia. Dan biar Dia nggak marah sama gue, gue nggak boleh dua-in Dia. So, mau nggak mau, gue harus putus sama Pape.

Gue berusaha ngejelasin itu baek-baek sama Pape, ternyata nggak susah kok, mutusin cowok. Hehehe...abis gue ceritain panjang lebar, tau nggak dia bilang apa? Dia tenang banget, dia sama sekali nggak marah, mungkin cuma sedikit kecewa, tapi secara keseluruhan dia bangga sama gue, dia juga bilang kalau dia juga nggak mau pacaran lagi. Malahan, dia pengen punya keputusan kayak gue. Dia bilang, pinginnya dia bakal langsung ngelamar gue aja, lima ato enam tahun ke depan. Wah, sumpah! Gue lega banget! Akhirnya gue bisa bener-bener bebas dan ngejalanin pilihan gue sendiri. Gue sama Pape juga sepakat buat nggak terlalu sering kontak lagi, takutnya itu bakalan buat gue sama dia inget lagi sama masa lalu. Bukannya yang lebih penting dan yang paling penting dipikirin itu masa depan, ya? Bener, kan?

Masalah gue berubah ini, termasuk pake jilbab, udah gue omongin sama orangtua gue. Awalnya mereka heran, mereka tahu sendiri kalau gue dulu hedon banget, hang out ke mall, gila belanja, nonton, ice skating, bowling, dugem, nongkrong di café ama temen-temen ampe malem dan masih banyak yang lain. Ya, aku bilang aja sama mereka, kalau gue bosen ama kehidupan kayak gitu, nggak ada manfaatnya sama sekali buat masa depan gue, apalagi setelah gue mati nanti! Ngeri banget!!!! Banyak banget dosa gue selama ini, kalau bukan sekarang gue berubah, kapan lagi? Emang gue tahu, besok gue masih di sini ato nggak?.

Orang tua gue bangga sama keputusan gue itu, mereka justru semakin percaya, kalau gue emang udah dewasa dan pantas buat ngambil keputusan sendiri. Beberapa hari yang lalu, waktu gue pulang ke Jakarta, begitu mama bukain pintu rumah buat gue, dia diem ngeliat penampilan gue yang pake’ jilbab, tapi setelah itu dia langsung meluk gue. Itu adalah pelukan yang nggak akan pernah gue lupain. Padahal selama ini, gue termasuk anak yang paling sering ngebantah mama, maafin Arum ya, Ma!!!

Gue seneng banget! Rasanya kayak baru aja jatoh ke tempat tidur yang penuh bunga. Mungkin sekarang ini, gue adalah orang yang paling bahagia di dunia. Gue jatuh cinta, sama Dia.

By the way, tadi siang gue baru aja beli rok. Waktu gue nyobain dan liat di cermin, gue ngerasa makin cantik pake’ rok. Okay, gue siap ama perubahan gue yang selanjutnya!!^-< [Ana]

Jumat, 25 Desember 2009

Uhibbuki Fillah

Uhibbuki FillAH

(Mencintaimu karena Allah)

Ana Izzihni

Akhirnya sampai juga di tempat ini, entah bagaimana bentuk hatiku sekarang, tak ada satu katapun yang sanggup menggambarkannya. Aku duduk bersimpuh dengan orang-orang lainnya, beberapa langkah di depanku, tertata beberapa meja yang dibalut kain putih dan dirangkai indah. Meja yang di tengah kosong dan hanya ada beberapa lembar kertas yang sudah kutahu isinya. Di atas meja lain, terlihat bingkisan indah yang di dalamnya ada benda-benda istimewa dengan rangkaian unik. Beberapa perhiasan emas yang disususn rapi, seperangkat alat sholat dan al-Qur’an yang disusun sedemikian indahnya. Baru beberapa orang yang hadir saat itu, mungkin 20 menit lagi acara segera dimulai.

Aku diam memadangi meja-meja putih itu, meja-meja putih yang semakin mengiris hatiku. Apalagi berada di masjid besar ini, sungguh tak ada yang bisa aku lakukan. Masjid yang dulu pernah aku impikan sebagai saksi hidup baruku, tapi Allah berkehendak lain.

“Mi, kamu pernah punya impian? Mau akad nikah dimana?”

“Punya, aku pingin akad nikah di masjid UGM, hahahaha… Terus resepsinya di Graha Sabha. Aku mau undang semua orang yang pernah kenal ama aku, pokoknya semuanya boleh datang. Pernikahanku, akan jadi hari paling bahagia buat aku dan juga buat orang lain. Hihihii,, Lucu ya? Kalau kamu, Bi?”

“Ehmm….kamu detail banget mimpinya, kalau aku sih, nggak pingin muluk-muluk. Yang penting, yang jadi istriku nanti, adalah orang yang sangat aku sayangi dan juga orang yang sangat sayang sama aku. Kalau masalah tempat, dimana aja deh, yang penting sakral,,,weissss, hahahaha..”

“ Yaaah, kalau itu sih sudah pasti. Tapi nih ya, menurutku, aku nggak terlalu peduli, gimana perasaanku ama ama suamiku nanti, yang penting, suamiku yang sayaaaaang banget sama aku. Hehe”

“Dasar,,,kamu itu, emang udah kejam dari orok, ya? Apa maksud kamu nggak peduli? Kamu mau nikah sama orang yang nggak kamu sayang? Itu sama aja kamu bohongin dia!!! Huuuuu…”

“Heh,,bukan gitu, tapi menurutku, …”

“Ah….udah-udah, persepsi kita tentang cinta itu emang beda! Lagian kayaknya udah sering kita bahas. Aku tahu, menurutmu, cinta sesama manusia itu nggak harus memiliki, kan? Menurutmu, yang pantas dimilki dengan utuh hanya cinya-Nya, iya, kan? Huuuuu,,aku heran deh, kenapa ada cewek yang nggak mau memperjuangkan cintanya, kayak kamu!”

“ Eh, nggak ya!! Aku amat sangat memperjuangkan cintaku, tapi sama Allah, nggak seperti kamu, yang doyan gonta ganti pacar, ntar Allah cemburu lho!!’

“Aduh, Mi…..Allah tetep nomor satu buat aku, lagian kamu tahu kenapa aku macarin mereka, itu karena aku mau menuntun mereka ke jalan yang bener!!!”

“Iya, kamu bisa aja punya niat baik kayak gitu, tapi itu kalau kamu seorang ustad, yang udah kuat imannya, lha ini, cuma siswa SMA biasa aja udah berani mau menuntun orang lain, benahin diri sendiri dulu, gih!!!”

“ Aduh, Umi sayang, kamu itu cerewet banget? Heran! Atau kamu cemburu, ya? Kamu suka sama aku? Aduuhhh, malu tuh, ama jilbabmu….hahahahahaha”

“ Heh,,Sorry ya!! Kayaknya nggak mungkin deh, aku suma sama cowok kayak kamu, lagian aku udah tahu semua kartu-kartu merahmu. Idih,,,ge-er banget!!! weeeeeekkkk”

Aku tak sanggup lagi mangingat masa-masa itu, sesak sekali rasanya dada ini, tapi aku masih kuat. Aku yakin aku bisa tegar menghadapi ini. Gelak tawa kami teringat jelas, suka-duka yang kami bagi bersama, sekilas demi sekilas kenangan kebersamaan kami berputar dalam otakku. Untung saja aku bukan wanita yang cenggeng, yang mudah meneteskan air mata, jika tidak, wajahku pasti sudah basah sekarang.

Tak kusadari sudah banyak orang yang memenuhi lantai dasar masjid itu, sepertinya acara akan segera dimulai. Sang MC tampak mengambil microfon dan membuka acara. Kedua mempelai datang dari kejauhan. Aku melihatnya samar-samar, memakai setelan koko berwarna merah maroon, dihiasi pernak pernik emas yang sederhana. Kenapa merah maroon? Warna kesukaanku. Apa maksudnya memilih warna merah itu? Apa dia tidak tahu betapa sakitnya aku melihat warna itu? Aku menelan ludah untuk kesekian kalinya. Kini pandanganku mulai kabur tertutup air mata yang makin menggenang.

“Katanya, orang yang suka warna merah itu ngeyel, nyebelin, dan susah nurut ama orang lain. Menurutku itu bener! Kayak kamu!!”

“Katanya juga, orang yang suka warna hitam atau putih itu keras kepala, egois, kasar dan gak bisa fleksibel ama orang lain. Itu juga kayak kamu!!”

“Wah, ngajak gelut, ki??!!” (Wah, ngajak berantem, nih??!!)

“Kamu duluan. Apapun kata orang, bagiku warna merah itu satu-satunya warna yang buat aku hidup, percaya diri dan semangat.”

“Oke,,dan buat aku, dalam hidup ini cuma ada dua warna, hitam dan putih”

Orang itu, salah satu orang yang selalu kusebut namanya dalam akhir sholatku, yang aku titipkan pada Allah, untuk senantiasa dipersiapkan menjadi seorang imam.

Ia berjalan dan duduk di depan meja putih. Di sampingnya duduk pula seorang wanita cantik memakai gamis merah maroon, dipadukan jilbab pink dan selendang transparan yang serasi. Membuat semua warna itu menyatu dan semakin mengiris hatiku. Ya, Rabb, betapa sakitnya cobaanMu ini. Wanita itu yang kurelakan untuknya, wanita yang kuanggap adikku sendiri.

“Mbak Umi, aku mau bilang sesuatu, tapi mungkin mbak bakal sedikit kaget.”

“Kamu kenapa, sih? Serius amat, udah bilang aja, biasanya juga gitu.”

“Aku,,,,aku….suka sama Mas Abi…”

“Hah!!” Serasa petir menyambar hatiku. Aku palingkan wajahku yang sedari tadi menatap laptop. Aku memandang wajahnya dan meminta keseriusan yang dalam. Aku pun tersenyum.

“Kamu nggak salah?” tanyaku masih tak percaya.

“Aku serius mbak, itu sudah dari dulu. Waktu aku lihat Mas Abi di masjid fakultas, aku tahu Mas Abi anak rohis. Mungkin aku sedikit munafik, aku tahu aku salah. Aku masuk Rohis juga karena pingin deket sama Mas Abi. Aku pindah kos juga karena pingin deket sama Mbak Umi. Aku tahu Mbak Umi orang yang paling deket ama Mas Abi. Aku pingin tahu Mas Abi lebih dalem. Tapi Mbak Umi sahabat Mas Abi kan? Bukan pacar?” tanyanya membuatku tersenyum.

“Aduh, adek, iya…. Aku udah jadi sahabatnya dari SMA. Tapi nggak lebih kok….”. saat itu, sekilas aku teringat saat perpisahan SMA, Abi dengan ringannya mengatakan kalau dia sayang lebih dari sahabat padaku. Namun, aku selalu menggapinya dengan bercanda.

“Berarti Mbak Umi nggak marah donk, kalau aku suka sama Mas Abi?”

“Ya Ampun, Ya nggak lah….kalau aku istrinya baru aku marah. Tapi Dek, mungkin sekarang dek boleh punya niat masuk rohis karena Abi, tapi adek harus janji sama mbak, kalau dek bakal mensucikan niat adek selanjutnya hanya karena Allah. Adek boleh suka sama Mas Abi, tapi titipkan dia sama Allah, biarkan Allah yang mempersiapkan dia menjadi Imam bagi jodohnya, dan kalau Adek jodohnya, adek harus percaya Mas abi bakalan jadi suami adek, toh kalaupun bukan, adek harus percaya ada jodoh yang lebih baik dari Abi di luar sana, untuk adek. Ngerti?”

“Aduuuh, Mbak Umii,,Aku ngerti, aku janji. Aku sayang sama Mbak Umi!!” dia memelukku erat.

Aku melihatnya dari arah samping, dia tepat beberapa langkah dariku. Aku melihat wajahnya, wajah yang sangat aku rindukan tawa dan hangatnya berbicara padaku. Rasanya air mata ini sudah ada di ujung kelopak mataku. Aku memejamkan mata dan menarik nafas. Hanya ada satu tetes air mata yang jatuh ke pangkuanku. Abi, lihatlah, menolehlah, lihatlah bahwa aku datang. Aku memenuhi janjiku.

Allah yang selalu membuatku tegar mengambil keputusan ini, keputusan yang menghancurkan hati Abi dan aku. Hanya Allah yang tahu, karena semua ini hanya untuk-Nya.

“Umi!!! Sipa kamu berani maksa aku seperti ini? Kamu kenal aku dari dulu, kamu tahu sifat asliku, tapi kenapa kamu ….. ” Abi memukulkan kepalan tangan keras sekali di dinding ruang kuliahnya. Sifatnya pemarah inilah yang tak pernah ia tunjukkan di depan orang lain, selain aku.

“Bi, Aku mohon. Kamu tahu dia sakit, biarkan di menyempurnakan agamanya dengan orang yang amat ia sayangi, itu kamu Bi.…”

“ Nggak, Mi. Kalau selama ini kamu jauhin aku karena aku sayang sama kamu, aku terima!! Aku juga nggak akan ganggu kamu, aku justru akan mempersiapkan diriku untuk jadi imammu. Cuma kamu, Umi!! Tapi kalau kamu minta aku untuk menjadi imam orang lain, aku nggak bisa. Maaf …” Dia melangkah cepat meningglkanku.

“Kamu nggak akan pernah jadi Imamku, Bi!!!” ini adalah rencana keduaku jika Abi masih keras kepala.

Abi menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya, penuh tanya

“Sudah ada orang lain di hatiku, dialah yang akan menjadi imamku. Kami akan menikah minggu depan!!” ucapku tanpa pikir panjang. Yang ada di kepalaku saat itu hanyalah Dek Intan yang sedang sakit parah di rumah sakit. Mungkin umurnya tidak akan lama lagi, dan permintaanya cuma satu, ia ingin menyempurnakan agamanya dengan Abi. Dia memintaku dengan air mata agar membujuk Abi mau menikahinya. Abi terdiam. Hujan tiba-tiba mengguyur kota itu dan kampus yang mulai sepi. Abi menjatuhkan jilidan skripsinya. Lalu dia melihatku, berjalan pelan ke arahku, ditinggalkannya tas dan jilidan skripsi yang susah payah ia selesaikan.

“Kamu bohong, Umi! Aku tahu kamu punya rasa sama denganku dari dulu. Tidak mungkin ada orang lain!” ucapanya perlahan di depanku.

“Tapi jika itu benar, aku bersedia menikahi Intan, setelah kamu menikah dengan lelaki itu. Tapi kamu harus janji, kamu akan datang di akad nikahku. Apa kamu sanggup?” Ya, Rabb, ingin rasanya aku berteriak, air mataku mengalir saat itu juga, aku kenal Abi, dia serius mengatakan itu. Apa aku sanggup?? Hanya Kau yang tahu apa yang dibalik hati ini, kuatkanlah aku ya, Rabb.

Air mataku mulai mengalir deras, saat abi mulai menjabat tangan sang penghulu dan bersiap mengucapkan kalimat sakral itu. Aku tidak sanggup ya, Rabb….Aku sungguh tidak sanggup!!

Lalu ada seseorang yang menepuk pundakku, aku menoleh, wajah teduh itu. Ia mengisyaratkan aku untuk pulang. Aku menoleh lagi ke arah Abi, dia masih tidak melihat ke arahku. Orang itu memegang tanganku dan menarikku lembut, aku berdiri. Mungkin mataku sudah sembam. Aku berjalan menjauh, dan menoleh kebelakang. Suhanallah,, mataku beradu pandang dengan kedua mata Abi. Abi diam, dia belum mengucapkan kalimat sakral itu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku memalingkan wajahku dan terdengar samar Abi mengucapalan lafaz akad dengan lancar. Gema takbir yang riuh terdengar semakin jauh.

Tanganku masih digenggam seseorang, seseorang yang bidang punggngnya. Seseorang yang sangat sabar dan berdada lapang bagaikan surga. Nikmat yang manakah, yang aku dustakan? Ya, betapa bangga dan bersyukurnya aku ya, Allah, karena Kau membirkan aku memilikinya, yang sangat sabar meminta cintaku yang telah terlanjur ada pada Abi, yang tak pernah marah padaku karena aku tak bisa mencintainya. Dan nikmat yang manakah yang aku dustakan?? Seseorang itu adalah Sumiku, Imamku menuju surgaMu.

Inilah cinta menurutku, cinta adalah saat kita bahagia melihat orang yang kita cintai pun bahagia. Walalupu tak pernah kita memilikinya, percayalah, karena dengan itu, cinta yang hakiki telah terpatri dalam hati, Allah ya Rabbi…(Ana)